PENA GARUT.COM-Milad Muhammadiyah ke-113 di Garut tahun ini diisi dengan kegiatan literasi berskala daerah yang digagas Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut. Rangkaian acara tersebut meliputi bedah buku Media dan Islam Berkemajuan serta lomba menulis sejarah Muhammadiyah Garut. Kegiatan dipusatkan di Aula Institut Muhammadiyah Darul Arqom Garut, Jalan Baratayudha, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.Senin(24/11/2025)
Ketua PDM Muhammadiyah Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., menjelaskan bahwa agenda ini menjadi momentum penting untuk menguatkan kembali tradisi literasi, khususnya di kalangan generasi muda.
“Ya, ini bagian dari rangkaian Milad Muhammadiyah ke-113. PIC-nya memang Majelis Pustaka dan Informasi. Bedah buku sudah jelas, karena yang dikaji adalah buku Media dan Islam Berkemajuan karya pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” ujar Agus.
Ia menegaskan bahwa literasi dan media tidak bisa dipisahkan dari perjuangan dakwah dan pendidikan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.
“Media itu tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dakwah. Tidak ada negara yang kuat tanpa media yang kuat,” ucapnya menegaskan.
Selain bedah buku, agenda yang tidak kalah penting adalah lomba penulisan sejarah Muhammadiyah Garut. Ia menyebut bahwa upaya penulisan sejarah ini sangat fundamental karena Garut menjadi salah satu daerah awal penyebaran Muhammadiyah di Jawa Barat pada sekitar tahun 1923.
“Penulisan sejarah Muhammadiyah Garut itu penting sebagai cerminan perjalanan Muhammadiyah di Jawa Barat. Ada beberapa tulisan sebelumnya, tapi belum utuh. Ada yang hanya menulis sampai tahun 80-an atau 2000-an. Maka, kami ingin anak muda, pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen ikut menyumbang perspektif mereka,” jelasnya.
Ketua PDM mengatakan bahwa lomba penulisan sejarah ini merupakan kali pertama digelar dengan format terbuka untuk berbagai kalangan.
“Baru pertama ini untuk penulisan sejarah. Dulu ada, tapi peminatnya masih sedikit. Sekarang kita dorong apa adanya dulu. Nanti produknya akan kita arahkan supaya sesuai kaidah penulisan sejarah,” tambahnya.
Menurutnya, tantangan literasi zaman sekarang bukan lagi soal kurangnya bahan bacaan, tetapi melimpahnya informasi yang sulit diseleksi.
“Hari ini membaca tetap populer, tapi masalahnya adalah apa yang dibaca. Semua orang bisa menulis, semua orang bisa membuat media. Kita harus belajar memilih bacaan yang perlu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa program ini memang menyasar kaum muda, namun tetap menjadi kebutuhan semua generasi.
“Media itu miliknya anak zaman sekarang. Orang-orang yang sudah sepuh mungkin kesulitan dengan media sosial. Maka kami di Muhammadiyah Garut ingin mensuport anak-anak muda agar melek media dan literasi,” tutupnya.(San)















