PENA GARUT.COM— Dentuman drum marching band pelajar memecah kesunyian persawahan Ciloa Tengah, Selasa (1 Juli 2025) pagi. Ratusan warga berbaris rapi mengiringi prosesi arak‑arakan 11 nasi tumpeng berhias rondon warna‑warni, simbol limpahan hasil bumi dan geliat UMKM lokal.
Selebrasi ini menandai pemekaran resmi sembilan Rukun Warga (RW) dan 27 Rukun Tetangga (RT) dari Desa Sindangratu menjadi Desa Sindangraja, Kecamatan Wanaraja.
“Pemekaran bukan sekadar memisahkan wilayah, tetapi peluang mempercepat pelayanan dan pembangunan,” ujar Yuyu Sunia, Kepala Desa Sindangratu, di mimbar tasyakuran.
Di lahan persawahan seluas hampir satu hektare yang disulap bak panggung rakyat, Panitia Pemekaran menggelar serah terima jabatan Penjabat (Pj.) Kepala Desa Sindangraja. Sorak‑sorai warga memuncak ketika nama Pj. Kades diumumkan—disambut tabuhan marawis dan pekik merdeka.
Sejak pagi, karnaval budaya menggulung sepanjang jalan kampung. Barisan remaja menampilkan tari jaipong, sedangkan kelompok ibu‑ibu memamerkan produk UMKM—dari keripik kulit sampai kopi robusta khas Wanaraja. Warga lain membawa aneka sayuran dan padi yang diikat menjadi gunungan kecil.
“Syukuran ini buah penantian panjang. Kini kami punya ruang lebih luas untuk berkreasi,” kata Euis Kartini (47), pegiat UMKM yang ikut memikul tumpeng.
Usai menerima Tamamudin, S.Pd desa, Pj. Kepala Desa Sindangraja berkomitmen mengebut penyediaan infrastruktur dasar.
“Prioritas kami enam bulan ke depan adalah kantor desa, jalan penghubung antarkampung, dan layanan administrasi digital,” tegasnya di hadapan hadirin.
Maka dari itu lanjut Yuyu Sunia tak lupa mengapresiasi warga yang rela menghibahkan lahan untuk kantor desa baru.
“Terima kasih atas tanah wakafnya. Kebersamaan semacam inilah pondasi Sindangraja,” ujarnya.(San)















