PENA GARUT.COM – Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 tahun 2026 dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, menegaskan bahwa sistem pemasyarakatan kini terus bergerak menuju pendekatan yang lebih humanis dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Dalam keterangannya, Rusdedy menjelaskan bahwa paradigma pemidanaan telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya berfokus pada penghukuman, kini sistem pemasyarakatan mengedepankan rehabilitasi dan reintegrasi sosial.
“Pemasyarakatan bukan hanya soal menjalani hukuman, tetapi bagaimana seseorang dipersiapkan untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat secara utuh,” ujarnya.Senin(27/04/2026)
Menurutnya, setiap individu, termasuk warga binaan, tetap memiliki hak untuk berubah dan memperbaiki diri. Oleh karena itu, pembinaan menjadi inti utama dalam sistem pemasyarakatan modern.
Ia menambahkan, keberhasilan sistem hukum tidak hanya diukur dari beratnya hukuman, tetapi dari kemampuan negara dalam menekan angka residivisme dan menciptakan individu yang lebih produktif.
Transformasi ini juga terlihat dari berbagai program yang langsung menyentuh masyarakat. Warga binaan kini terlibat dalam kegiatan sosial seperti pembangunan rumah layak huni, perbaikan fasilitas umum, hingga renovasi tempat ibadah.
“Melalui pembinaan yang tepat, warga binaan bisa memberikan kontribusi nyata. Ini bukti bahwa pemasyarakatan bisa menjadi bagian dari solusi sosial,” kata Rusdedy.
Selain itu, kegiatan bakti sosial seperti donor darah, bantuan pendidikan, layanan kesehatan gratis, hingga pemberdayaan keluarga warga binaan juga terus digencarkan.
Tak hanya aspek sosial, Lapas Garut juga mengambil peran dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Lahan yang ada dimanfaatkan untuk pertanian, peternakan, hingga perikanan.
“Hasilnya tidak hanya untuk kebutuhan internal, tetapi juga memberi dampak bagi lingkungan sekitar,” jelasnya.
Program ini sekaligus menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi warga binaan agar memiliki keterampilan saat kembali ke masyarakat.
Di sisi lain, Lapas Garut juga fokus pada penanganan berbagai tantangan internal, seperti overkapasitas dan pemberantasan narkoba. Upaya dilakukan melalui pengawasan ketat, razia rutin, serta pemberian hak integrasi sesuai aturan.
Dalam pembinaan kepribadian, warga binaan dibekali pendidikan mental, nilai keagamaan, serta wawasan kebangsaan.
“Perubahan perilaku dimulai dari perubahan pola pikir. Itu yang terus















