PENA GARUT.COM-Seminar Nasional dan launching Program Studi S1 Gizi serta SDGs Center resmi digelar di Kampus 2 Institut Kesehatan Karsa Husada Garut. Kegiatan tersebut mengusung tema “Pembangunan Kesehatan Nasional Melalui Peningkatan Ketahanan Gizi Masyarakat”
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI) Prof. Dr. Ir. Budi Setiawan, MS. menyampaikan rasa bangga dan bahagianya atas dibukanya Program Studi Sarjana Gizi di Kabupaten Garut. Menurutnya, kehadiran prodi tersebut menjadi langkah penting dalam pengembangan pendidikan gizi di Indonesia, khususnya di Garut.
“Saya sangat berbahagia karena saya memang asalnya dari Garut. Selama ini di Garut belum ada program studi gizi, jadi ini sesuatu yang sangat menggembirakan dan tentu harus disambut baik,” ujarnya.Selasa(19/05/2026)
Ia menilai persoalan gizi masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Kabupaten Garut. Terlebih saat ini pemerintah tengah menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan banyak tenaga sarjana gizi.
“Sekarang sarjana gizi itu jadi rebutan karena salah satu syarat di SPPG harus ada sarjana gizi. Jadi peluang kerjanya sangat terbuka,” katanya.
Menurut Prof. Budi, lulusan sarjana gizi tidak hanya dibutuhkan di layanan kesehatan, tetapi juga di industri pangan. Saat ini tren makanan sehat atau healthy food terus berkembang dan mendorong industri untuk memproduksi makanan yang tidak hanya lezat, tetapi juga menyehatkan.
“Sekarang industri makanan mulai memproduksi functional food, yaitu makanan yang memberikan manfaat kesehatan. Ini menjadi peluang besar bagi lulusan gizi,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi perkembangan Institut Kesehatan Karsa Husada Garut yang sebelumnya berstatus sekolah tinggi kesehatan (Stikes) dan kini berkembang menjadi institut.
Saya kira ini strategi yang sangat baik. Dari Stikes menjadi institut, mudah-mudahan ke depan bisa menjadi universitas dengan penambahan program studi lain,” ungkapnya.
Prof. Budi menegaskan bahwa dirinya hadir langsung dari Bogor sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan gizi di Garut dan pemerataan pendidikan gizi secara nasional.
“Saat ini hampir di seluruh Indonesia sudah ada pendidikan gizi, dari Aceh sampai Papua. Garut tentu tidak boleh ketinggalan,” katanya.
Dalam paparannya, Prof. Budi juga menjelaskan perkembangan jumlah program studi gizi di Indonesia. Saat ini terdapat sekitar 140 program studi S1 Gizi, delapan program magister (S2), dan dua program doktor (S3) yang berada di Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor.
Selain itu, pendidikan profesi gizi juga terus berkembang. Saat ini terdapat 14 program profesi Dietician di Indonesia, sementara profesi Nutritionist baru tersedia di IPB dan akan segera dibuka di berbagai perguruan tinggi lainnya.
“Kami dari asosiasi sudah menyiapkan sekitar 150 calon dosen professionist nutritionist. Diperkirakan sekitar 30 program profesi baru akan segera dibuka di Indonesia,” jelasnya.
Ia menambahkan, lulusan sarjana gizi yang mengambil pendidikan profesi nantinya dapat memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR) sebagai tenaga kesehatan profesional. Namun untuk kebutuhan program MBG maupun industri pangan, lulusan sarjana gizi tetap dapat langsung bekerja.















