PENA GARUT.COM– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut terus memperkuat pembinaan warga binaan melalui berbagai kegiatan yang menyentuh aspek kesehatan, kedisiplinan, keterampilan, pendidikan keagamaan hingga persiapan reintegrasi sosial.Minggu(25/10/2026)
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung pada 19–24 Oktober 2026. Upaya tersebut menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pidana, tetapi juga diarahkan untuk membangun kesiapan warga binaan agar dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih bertanggung jawab di tengah masyarakat.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan bagi warga binaan yang bertugas sebagai tamping dapur pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Pemeriksaan ini menjadi bagian penting karena tamping dapur terlibat langsung dalam proses pengolahan dan penyiapan makanan bagi warga binaan. Kondisi kesehatan mereka perlu mendapat perhatian untuk mendukung penyelenggaraan makanan yang berjalan dengan baik.
Selain memastikan kondisi kesehatan tenaga pengolah makanan, pemeriksaan tersebut juga memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memperoleh pelayanan medis sesuai dengan kondisi masing-masing.
Pelayanan kesehatan ini menjadi bagian dari fungsi poliklinik Lapas Garut dalam memberikan perhatian terhadap kebutuhan kesehatan warga binaan.
Di sisi lain, keterlibatan warga binaan sebagai tamping dan pekerja juga menjadi bagian dari proses pembinaan kemandirian. Melalui pekerjaan yang diberikan, mereka belajar menjalankan tugas, menjaga tanggung jawab, serta memahami pentingnya kedisiplinan dalam lingkungan kerja.
Penguatan kedisiplinan juga dilakukan melalui Jam Pimpinan bagi tamping dan pekerja pada Senin, 19 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pengarahan sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan tugas warga binaan. Arahan yang diberikan diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan terhadap aturan serta menjaga keamanan dan ketertiban selama menjalankan pekerjaan di lingkungan lapas.
Pada hari yang sama, Lapas Kelas IIA Garut juga melaksanakan Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) terkait program asimilasi dan integrasi.
Dalam periode 19–24 Oktober 2026, tercatat 14 warga binaan mengikuti Sidang TPP integrasi. Jumlah tersebut merupakan peserta yang dibahas dalam sidang dan bukan berarti seluruhnya telah mendapatkan persetujuan program.
Sidang TPP menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pembinaan karena mempertimbangkan kesiapan warga binaan untuk mengikuti program yang berkaitan dengan asimilasi maupun integrasi.
Proses tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan warga binaan sebelum kembali ke lingkungan sosialnya. Dengan demikian, pembinaan tidak berhenti pada kehidupan di dalam lapas, tetapi juga diarahkan pada kesiapan menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana
Selain kesehatan dan pembinaan kemandirian, Lapas Garut juga memberikan perhatian terhadap pembinaan kepribadian melalui pendidikan agama dan literasi.
Selama periode 19–24 Oktober 2026, sebanyak 107 warga binaan tercatat mengikuti kegiatan sebagai santri di Pesantren Taubatul Mudznibiin.
Kegiatan keagamaan bagi warga binaan Muslim juga dilengkapi dengan renungan qolbu yang dilaksanakan setiap Senin dan Rabu. Sementara itu, kultum dan salat Zuhur berjemaah dilaksanakan setiap hari.
Pembinaan keagamaan juga diberikan kepada warga binaan beragama Kristen melalui kegiatan kebaktian yang dilaksanakan setiap Selasa dan Kamis.
Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi warga binaan untuk menjalankan pembinaan sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.
Tidak hanya pembinaan spiritual, Lapas Garut juga memberikan ruang bagi pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan membaca.
Sebanyak lima warga binaan mengikuti pembelajaran membaca yang dijadwalkan setiap Senin hingga Kamis serta Sabtu. Program tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap peningkatan kemampuan literasi warga binaan.
Kemampuan membaca dinilai penting karena menjadi salah satu bekal dasar untuk mengikuti proses pembelajaran, memperoleh informasi, serta mendukung kehidupan warga binaan ketika nantinya kembali ke masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan warga binaan dilakukan melalui berbagai pendekatan. Mulai dari menjaga kesehatan, membangun disiplin dan tanggung jawab melalui pekerjaan, memberikan pembinaan keagamaan, meningkatkan kemampuan literasi, hingga mempersiapkan proses reintegrasi.
Kegiatan di dapur, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makan warga binaan. Di dalamnya terdapat proses pembelajaran mengenai tanggung jawab dan kerja sama.
Begitu pula dengan Jam Pimpinan yang menjadi sarana untuk mengingatkan warga binaan mengenai kewajiban menjalankan tugas sesuai aturan.
Sementara Sidang TPP menjadi bagian dari tahapan pembinaan yang berkaitan dengan persiapan warga binaan mengikuti program asimilasi dan integrasi.
Sedangkan pendidikan agama dan literasi memberikan bekal dari sisi kepribadian dan kemampuan dasar.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Lapas Kelas IIA Garut terus berupaya menjalankan fungsi pemasyarakatan dengan mengedepankan pembinaan dan pelayanan dasar bagi warga binaan.
Tujuan akhirnya bukan hanya menciptakan lingkungan lapas yang aman dan tertib, tetapi juga membantu warga binaan memiliki bekal yang lebih baik ketika kembali menjadi bagian dari masyarakat.















