PENA GARUT.COM – Gelar Karya 2.0 Pendidikan Profesi Guru (PPG) IPI Garut Tahun 2026 menjadi ruang bagi calon guru untuk menunjukkan berbagai inovasi pembelajaran yang lahir dari persoalan nyata di sekolah.
Mengusung tema “Merajut Arah, Membangun Bangsa”, kegiatan tersebut digelar di Aula IPI Garut, Jalan Terusan Pahlawan No. 32, RW 01, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (19/10/2026).
Rektor IPI Garut, Prof. Dr. H. Nizar Alam Hamdani, M.M., M.T., M.Si., M.Kom., CIHCM, mengatakan tema yang diangkat memiliki makna strategis karena menggambarkan pentingnya kolaborasi antara pengetahuan, pengalaman dan kebudayaan dalam membangun arah pendidikan Indonesia.
“Merajut arah ini kita maknai sebagai upaya kolaborasi antara pengetahuan, pengalaman dan kebudayaan. Kolaborasi ini dapat membangun sebuah keberagaman,” ujar Nizar.
Menurutnya, keberagaman mahasiswa PPG IPI Garut yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia menjadi kekuatan tersendiri dalam melahirkan gagasan untuk kemajuan pendidikan nasional.
Ia menilai keberagaman tersebut harus diarahkan pada visi bersama, yakni mempersiapkan pendidikan Indonesia dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
“Pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan merupakan proses ikhtiar kemanusiaan untuk mengembangkan berpikir kritis, meningkatkan budi pekerti, membentuk karakter, disiplin dan rasa tanggung jawab,” katanya.
Nizar menegaskan, esensi pendidikan adalah memanusiakan manusia. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menuntun peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dan karakter dirinya.
Gelar Karya 2.0 PPG IPI Garut tidak sekadar menjadi ajang memamerkan teknologi pendidikan. Berbagai produk yang ditampilkan mahasiswa justru berangkat dari hasil analisis terhadap persoalan yang ditemukan di lingkungan sekolah.
Nizar menjelaskan, mahasiswa terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan pembelajaran, kemudian mencari solusi melalui berbagai inovasi.
“Esensi gelar karya ini adalah bagaimana mahasiswa mempresentasikan karya-karya inovatif yang didapat dari analisis masalah di sekolah,” ungkapnya.
Inovasi yang ditampilkan mencakup teknologi pembelajaran, media pembelajaran hingga metode permainan yang dirancang untuk membantu siswa memahami materi secara lebih kontekstual.
Menurut Nizar, pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.
“Tujuannya bagaimana menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan terutama menyenangkan sehingga dapat dipahami oleh seluruh siswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, gagasan akademik yang ditampilkan dalam gelar karya harus mampu diubah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat nyata bagi dunia pendidikan.
Dengan demikian, gelar karya tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi dapat menjadi ruang untuk menghasilkan solusi atas berbagai persoalan pembelajaran di sekolah.
Nizar menyampaikan, IPI Garut memiliki komitmen dalam menyiapkan guru profesional. Saat ini, institusi dan Program Studi PPG IPI Garut telah meraih akreditasi unggul.
“IPI Garut alhamdulillah sudah terakreditasi institusi unggul dan PPG-nya juga sudah terakreditasi unggul. Kita memiliki peran yang strategis bagaimana menciptakan guru yang profesional,” katanya.
Dalam proses pendidikan calon guru, PPG IPI Garut tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan akademik. Pembentukan karakter juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Mahasiswa mengikuti pembelajaran di kelas, pembelajaran di sekolah serta berbagai kegiatan lainnya, termasuk kegiatan berasrama, apel pagi, bela negara dan penanaman pohon.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk karakter, budi pekerti, tanggung jawab dan kebijaksanaan calon guru.
“Pembentukan mereka tidak bertumpu kepada aspek pengetahuan, tetapi juga bagaimana mengasah karakter, budi pekerti, hati supaya lebih bijaksana, terutama mengasah tanggung jawab mereka ketika nanti ditugaskan sebagai guru,” tutur Nizar.
Berbagai produk yang dipamerkan dalam Gelar Karya 2.0 dinilai memiliki potensi untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran disekolah.
Nizar menyebut setiap booth memiliki keunggulan masing-masing karena produk yang dibuat mahasiswa berbasis pada persoalan nyata.
Ia menjelaskan, satu persoalan pendidikan bahkan dapat diselesaikan melalui beberapa alternatif inovasi yang berbeda.
“Semua booth yang ditampilkan rekan-rekan semuanya unggul. Mereka berbasis masalah, kemudian solusinya pun berbagai macam. Mereka tidak hanya menampilkan satu solusi, tetapi berbagai produk untuk menyelesaikan satu masalah,” jelasnya.
Ke depan, hasil karya mahasiswa tersebut diharapkan dapat diperkenalkan kepada pemerintah daerah agar memiliki ruang pemanfaatan yang lebih luas.
Nizar mengungkapkan, pihaknya telah mendapatkan respons positif dari perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap akan ada agenda lanjutan berupa sosialisasi kepada pemerintah daerah sekaligus kemungkinan penyerahan produk-produk pembelajaran hasil karya mahasiswa PPG IPI Garut.
Selain mempertahankan capaian akreditasi unggul secara nasional, IPI Garut juga mulai membidik akreditasi internasional untuk program PPG.
Nizar mengatakan target tersebut diharapkan dapat direalisasikan pada akhir 2027.
“Target kita sekarang, kalau akreditasi nasional sudah unggul, bahkan PPG kita menjadi yang pertama di Jawa Barat yang unggul. Target berikutnya adalah terakreditasi internasional. Mudah-mudahan di akhir 2027 kita sudah mendapatkan sertifikasi akreditasi internasional,” ungkapnya.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu dan daya saing lulusan PPG IPI Garut.
Nizar menilai guru profesional memiliki posisi sangat penting dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Guru profesional, katanya, harus memiliki empat kompetensi utama, yakni kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian.
Keempat kompetensi tersebut menjadi modal penting bagi guru dalam menjalankan tugas mendidik generasi penerus bangsa.
“Guru itu adalah pelukis masa depan. Saya hadir di sini, Pak Soni hadir di sini dan semuanya pejabat yang ada di sini, tidak mungkin hadir tanpa adanya guru,” katanya.
Ia juga mengingatkan para guru agar tidak takut terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat proses pembelajaran.
“Guru jangan takut sama teknologi. Guru yang baik dan guru yang luar biasa adalah guru yang mampu memanfaatkan teknologi yang ada sehingga menjadi luar biasa dan mampu meningkatkan derajat hidup bangsa,” pungkasnya.















