PENA GARUT.COM– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Hal ini dibuktikan melalui kegiatan panen sayuran organik yang melibatkan langsung warga binaan pemasyarakatan (WBP), Kamis (26/03/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Lapas Garut berhasil memanen kangkung organik sebanyak 10 kilogram serta selada bokor sebanyak 5 kilogram. Meski dilakukan secara sederhana, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan di dalam lapas dapat berjalan produktif dan memberikan nilai manfaat.
Menariknya, proses budidaya hingga panen ini sepenuhnya melibatkan dua orang WBP yang aktif mengikuti program pembinaan kemandirian di bidang pertanian.
Kepala Lapas Garut menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar panen biasa, melainkan bagian dari strategi pembinaan berkelanjutan.
“Kami terus mendorong WBP agar memiliki keterampilan yang bisa digunakan saat kembali ke masyarakat. Pertanian organik ini menjadi salah satu bekal yang sangat bermanfaat,” ujarnya.
Program ini juga merupakan implementasi dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), khususnya dalam aspek pemberdayaan warga binaan. Selain itu, langkah ini sejalan dengan program ketahanan pangan nasional yang tengah digencarkan pemerintah.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Garut, Asep Supritana, menjelaskan bahwa pembinaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap awal hingga panen
“Kami tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga prosesnya. WBP dibina mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen. Kangkung yang dihasilkan pun merupakan jenis organik, sehingga lebih sehat dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu WBP yang terlibat mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Ia merasa mendapatkan pengalaman baru yang bermanfaat selama menjalani masa pembinaan.
“Kami merasa lebih produktif dan punya kegiatan positif. Ilmu ini bisa kami gunakan nanti setelah bebas,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Lapas Garut tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan pemberdayaan.
Harapannya, para WBP dapat kembali ke masyarakat dengan keterampilan baru dan siap mandiri, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.















