PENA GARUT.COM – Program ketahanan pangan yang dijalankan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut kembali menunjukkan hasil. Sebanyak tujuh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berhasil memanen 836 kilogram komoditas hortikultura dari lahan pertanian seluas sekitar satu hektare di Bumi Perkemahan Kitri Lembah Cikoneng, Kabupaten Garut
Hasil panen tersebut terdiri dari 750 kilogram bawang daun dan 86 kilogram kubis. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang melibatkan WBP secara langsung dalam kegiatan pertanian produktif.
Dalam pelaksanaannya, para WBP tidak hanya terlibat saat proses pemanenan. Mereka mengikuti berbagai tahapan budidaya, mulai dari menyiapkan lahan, menanam, merawat tanaman, hingga memanen hasil pertanian.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan pendampingan dua petugas Lapas Kelas IIA Garut. Pengawasan tetap dilakukan untuk memastikan seluruh proses berjalan dengan memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban.
Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, mengatakan kegiatan pertanian menjadi salah satu bentuk pembinaan yang dirancang agar WBP memperoleh pengalaman kerja sekaligus keterampilan yang dapat dikembangkan setelah kembali ke masyarakat.
“Ketahanan pangan kami jadikan sebagai ruang pembinaan yang nyata. Warga Binaan tidak hanya belajar menanam, tetapi mengikuti seluruh proses dari mengolah lahan, merawat tanaman, memanen, hingga melihat hasil kerjanya terserap pasar. Di sinilah pembinaan menghasilkan keterampilan sekaligus produktivitas,” ujar Rusdedy.Rabu(16/09/2026)
Menurut Rusdedy, hasil panen sebanyak 836 kilogram tidak hanya dilihat dari sisi jumlah produksi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membangun kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta etos kerja para WBP.
“Bagi kami, 836 kilogram yang dipanen hari ini bukan hanya angka produksi. Di dalamnya ada proses belajar, kedisiplinan, kerja keras, tanggung jawab, dan harapan. Kami ingin setiap lahan yang dikelola menjadi ruang produktif dan setiap Warga Binaan yang terlibat memperoleh keterampilan untuk membangun kemandirian setelah selesai menjalani masa pidana,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Garut, Asep Supriatna, menjelaskan bahwa kegiatan pertanian tersebut dirancang sebagai pembelajaran kerja yang mengutamakan praktik langsung.
Menurutnya, WBP dibiasakan memahami bahwa produksi komoditas pertanian membutuhkan proses panjang, ketekunan, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama.
“Warga Binaan mengikuti prosesnya dari awal sampai panen. Mereka belajar bahwa menghasilkan pangan membutuhkan kerja yang konsisten. Ketika hasilnya kemudian dapat dipasarkan, mereka juga memahami bahwa keterampilan dan produktivitas memiliki nilai ekonomi,” kata Asep.
Setelah dipanen, sebanyak 836 kilogram hasil hortikultura tersebut kemudian dipasarkan kepada pengepul di kawasan Pasar Ciawitali, Garut.
Penyerapan hasil pertanian oleh pasar membuat program pembinaan tidak berhenti pada kegiatan produksi. WBP juga diperkenalkan dengan tahapan setelah panen, termasuk bagaimana hasil kerja dapat memiliki nilai ekonomi.
Lahan pertanian di Bumi Perkemahan Kitri Lembah Cikoneng yang merupakan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Garut turut dimanfaatkan sebagai ruang produktif untuk mendukung kegiatan pembinaan.
Pemanfaatan lahan tersebut sekaligus menjadi bentuk sinergi dalam mengoptimalkan potensi pertanian daerah. Selain menghasilkan komoditas pangan, lahan tersebut menjadi tempat bagi WBP untuk mendapatkan pengalaman dan keterampilan melalui kegiatan kerja secara langsung.
Lapas Kelas IIA Garut selanjutnya terus mendorong pengembangan kegiatan pertanian dan berbagai program produktif lainnya sebagai bagian dari pembinaan kemandirian WBP.
Program ketahanan pangan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga memberikan bekal keterampilan dan pengalaman kerja bagi WBP sebelum kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Dengan demikian, hasil panen bawang daun dan kubis tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan di Lapas Garut diarahkan tidak hanya pada aspek pembinaan kepribadian, tetapi juga pada pengembangan keterampilan dan produktivitas.
Dari lahan pertanian, WBP belajar mengolah dan menghasilkan pangan. Dari proses tersebut, keterampilan kerja dan kemandirian terus dibangun sebagai bekal untuk kembali produktif di masyarakat.















