PENA GARUT.COM– Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Garut terus menunjukkan komitmennya dalam pembinaan berkelanjutan dengan meluncurkan Program Inisiatif Hijau bertajuk Garut Green Correction (GGC). Program ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, menyampaikan bahwa Garut Green Correction dirancang sebagai program terpadu yang menyatu dengan aktivitas pemasyarakatan sehari-hari. Tidak hanya berfokus pada pembinaan kemandirian, program ini juga memperkuat tata kelola lingkungan di dalam Lapas.
“Garut Green Correction bukan program simbolik. Ini kami bangun sebagai bagian dari sistem kerja dan pembinaan yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujar Rusdedy.Selasa(06/01/2026)
Dalam penerapannya, Lapas Garut menerapkan standar operasional prosedur khusus terkait pengelolaan lingkungan, mulai dari kebersihan, efisiensi penggunaan air dan listrik, hingga pemanfaatan lahan kosong.
“Untuk memastikan kebijakan tersebut berjalan efektif, dibentuk tim penggerak Lapas Hijau yang bertugas melakukan pendampingan, pengawasan, serta evaluasi rutin.”
Pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus utama program ini. Sampah dipilah sejak dari sumber, baik di blok hunian, dapur, maupun area kerja.
“Sampah organik diolah menjadi kompos dan pupuk cair yang dimanfaatkan kembali untuk pertanian di dalam Lapas,”
Sementara sampah anorganik seperti plastik dan kertas dikelola melalui bank sampah warga binaan, sehingga mampu mengurangi volume limbah sekaligus memberikan nilai ekonomi.
Pada sektor ketahanan pangan, Lapas Garut mengembangkan pertanian organik dengan memanfaatkan lahan terbatas yang ada. Berbagai jenis sayuran, tanaman pangan, dan tanaman obat keluarga dibudidayakan tanpa bahan kimia sintetis. Selain metode konvensional, diterapkan pula sistem hidroponik dan vertikultur sebagai solusi keterbatasan lahan.
“Hasil pertanian tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas, tetapi juga menjadi sarana pelatihan keterampilan agribisnis bagi warga binaan sebagai bekal setelah bebas nanti,”
Program Garut Green Correction juga menyasar efisiensi energi dan pengelolaan air. Upaya yang dilakukan antara lain penggunaan lampu hemat energi, pembiasaan perilaku hemat listrik dan air, serta pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan nonkonsumsi seperti penyiraman tanaman dan kebersihan lingkungan. Lapas Garut bahkan mulai merintis pemanfaatan energi terbarukan skala kecil sebagai proyek percontohan.
“Dalam aspek pembinaan kemandirian, warga binaan dilibatkan dalam industri hijau berbasis daur ulang dan bahan ramah lingkungan. Produk-produk yang dihasilkan diharapkan memiliki nilai guna dan nilai jual, sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang relevan dengan kebutuhan pasar,”
Selain kegiatan teknis, pembentukan budaya sadar lingkungan menjadi bagian penting dari program ini. Edukasi lingkungan diberikan secara bertahap melalui pembiasaan hidup bersih, kerja bakti rutin, penataan blok hunian, hingga kegiatan penanaman dan perawatan tanaman di lingkungan Lapas.
“Untuk menjamin keberlanjutan, Lapas Garut menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah, instansi teknis, dunia usaha, dan perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut mencakup pendampingan, penyediaan sarana pendukung, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia,”
Rusdedy menegaskan bahwa Garut Green Correction merupakan wujud komitmen Lapas Garut dalam menghadirkan pembinaan pemasyarakatan yang berdampak luas.
“Melalui program ini, kami ingin warga binaan tidak hanya berubah secara perilaku, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan dan keterampilan yang relevan dengan pembangunan berkelanjutan,” tutupnya.















