PENA GARUT.COM— Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut kembali mencuri perhatian. Tidak hanya mencetak guru yang kompeten secara akademis dan pedagogis, PPG IPI Garut kini menjadi kawah candradimuka para calon pemimpin pendidikan masa depan.
Dalam kegiatan Gelar Karya Proyek Kepemimpinan bertajuk “Karya Kita” yang berlangsung di Auditorium Rektorat IPI Garut, Rabu, (28/05/2025), seluruh mahasiswa PPG gelombang 2 tahun 2024 menampilkan inovasi-inovasi nyata dari hasil proyek kepemimpinan yang mereka rancang selama masa pendidikan.
“Guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas. Ia adalah agen perubahan, dan kepemimpinan adalah kuncinya,” ujar Rektor IPI Garut, Prof. Dr. Nizar Alam Hamdani, M.M., M.T., M.Si., M.Kom., dalam sambutannya.
Prof. Nizar menegaskan bahwa proyek kepemimpinan di PPG IPI Garut bukanlah formalitas akademik semata, melainkan bentuk nyata kontribusi calon guru dalam menyelesaikan berbagai tantangan pendidikan di masyarakat.
“Melalui karya-karya ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya bisa mengajar, tapi juga mampu memimpin transformasi pendidikan secara inovatif dan reflektif,” lanjutnya.
Rektor juga mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian PPG IPI Garut yang kini menempati peringkat pertama nasional dalam hal penjaminan mutu. Tak hanya itu, tujuh dari empat belas program studi di IPI Garut juga telah meraih akreditasi unggul.
“Tahun ini kami targetkan sembilan prodi berstatus unggul. Ini bukan hanya prestasi lokal, tapi juga bukti daya saing kami di tingkat nasional dan internasional,” tegas Prof. Nizar.
Sementara itu, Koordinator PPG IPI Garut, Dr. Galih Abdul Fatah Maulani, M.Kom., menambahkan bahwa Gelar Karya “Karya Kita” adalah panggung nyata bagi mahasiswa untuk menunjukkan jiwa kepemimpinan mereka.
“Projek ini bukan sekadar tugas, tapi ruang untuk menciptakan perubahan nyata di dunia pendidikan,” ungkap Galih dalam sambutannya.
Visi IPI Garut untuk tahun 2042 pun terbilang ambisius: menciptakan guru unggul abad 21 yang inovatif, reflektif, dan transformatif. Dr. Galih menegaskan bahwa calon guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna serta menjawab tantangan zaman.
Sebanyak 12 kelompok mahasiswa menampilkan karya inovatif mereka. Mulai dari pendekatan literasi berbasis budaya lokal, penguatan karakter melalui komunitas, hingga pojok ekspresi siswa. Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa PPG IPI Garut tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga siap terjun sebagai pemimpin perubahan.
“Ini bukan hanya soal teknologi atau metode, tapi tentang keberpihakan kepada anak didik dan keberlanjutan pendidikan,” tutup Galih dengan penuh harap.
Dengan semangat dan kualitas yang terus ditingkatkan, PPG IPI Garut tampaknya siap menjadi mercusuar pendidikan profesi guru di Indonesia.















